Rabu, 21 Januari 2009

Kunjungan Kawan-Kawan Petani dari Wamena ke KTM



“Tak ada nasi, ubi pun jadi”



         Mungkin kata-kata itulah yang tepat untuk menggambarkan keanekaragaman komoditas bahan pangan yang ada di Indonesia. Slogan tentang keanekaragaman bahan pangan sudah sering terdengar di telinga kita. Baik itu melalui program pemerintah ataupun pihak-pihak tertentu yang memang terkait dengan persoalan tersebut. Dari beberapa informasi yang kami dengar, bahwa pemerintah mensosialisasikan program penganekaragaman bahan pangan tersebut adalah untuk mencari solusi akan kebutuhan beras yang semakin tahun semakin meningkat dengan tajam, padahal total produksi padi di tanah air semakin menurun. Hal inilah yang menjadikan salah satu penyebab sampai-sampai pemerintah harus mengambil kebijakan import beras dari luar disamping mungkin ada sebab-sebab lain yang tidak akan kita bahas dalam tulisan ini.           Untuk beberapa wilayah di Indonesia, program semacam ini mungkin menjadi sangat penting untuk terus dikembangkan. Terutama di wilayah Jawa yang mayoritas penduduknya menjadikan beras sebagai bahan baku untuk makanan pokoknya. Apalagi lahan persawahan di Pulau Jawa semakin tahun semakin menyempit seiring dengan peningkatan pembangunan di bidang industri dan perumahan yang seiring juga dengan pesatnya peningkatan jumlah penduduk.
          Namun perlu kita ingat, bahwa program semacam ini ternyata tidak berlaku secara umum untuk seluruh wilayah Indonesia. Salah satu contohnya adalah di daerah Papua. Beberapa masyarakat di daerah Papua tidak menjadikan beras sebagai komoditas bahan pangan utama. Sebut saja masyarakat di Kabupaten Wamena. Sebagian besar masyarakat Wamena menjadikan umbi-umbian (khususnya ubi jalar) sebagai bahan makanan pokoknya. Namun karena minimnya akses informasi yang mereka terima khususnya masyarakat-masyarakat adat yang tinggal di pedalaman, sehingga proses pengolahan ubi menjadi bahan pangan dilakukan dengan sangat sederhana. Menurut informasi yang kami terima, mereka mengolah ubi hanya cukup dengan direbus atau dibakar dalam prosesi bakar batu . Yaitu sebuah prosesi adat yang sudah berlangsung sejak jaman nenek moyang mereka dahulu dan tetap lestari sampai sekarang.

 


Kunjungan (Study Banding)
Kawan-Kawan Petani WAMENA Ke KTM



   Dengan segala kesederhanaan dan minimnya akses informasi yang mereka terima ternyata tidak menyurutkan semangat para petani Wamena untuk terus menuntut ilmu dan mengembangkan teknologi pertanian yang mereka miliki. Bahkan dengan segala keterbatasan tersebut malah membuat mereka lebih bersemangat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman walaupun harus menempuh perjalanan jauh sampai ke Pulau Jawa. Hal inilah yang kemarin diwujudkan oleh kawan kawan petani Wamena dengan melakukan study banding ke Kelompok Tani Muda Desa Sajen Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto –Jatim.
          Beberapa petani dari Wamena bersama lembaga pendampingnya, pada tanggal 21 Januari 2009 kemarin telah hadir di sekretariat KTM untuk melakukan sharing pengalaman tentang proses budidaya ubi jalar yang dilanjutkan dengan kunjungan ke lahan untuk melihat dan belajar secara langsung proses budidaya ubi jalar di wilayah Pacet. Selama ini di kawasan Pacet - Kabupaten Mojokerto, ubi jalar memang masih menjadi komoditas andalan. Di samping kondisi tanahnya yang memang cocok untuk tanaman tersebut, cara budidaya ubi jalar juga tergolong tidak terlalu rumit dibanding dengan cara budidaya tanaman yang lainnya apalagi hortikultura. Biaya yang dikeluarkan juga tidak begitu banyak. Sehingga petani Pacet lebih memilih untuk bertanam ubi jalar disamping komoditas utama yang lain yaitu jenis sayur-sayuran.

         Berdasarkan hasil sharing kami dengan petani dari Wamena, ternyata proses budidaya yang dilakukan di Pacet tidak jauh berbeda dengan yang telah di lakukan para petani Wamena. Hanya saja orientasi mereka menanam lebih untuk konsumsi sendiri sebagai bahan makanan pokok. Sedangkan kalau di Pacet atau di jawa pada umumnya, orientasinya lebih kedalam skala bisnis (dijual). Dari orientasi yang berbeda tersebut juga memberikan nuansa yang agak berbeda dalam proses budidayanya. Kalau di Pacet, proses budidaya dilakukan secara lebih intensif. Yaitu dengan menambahkan pupuk pada saat budidayanya. Kemudian panennya pun dilakukan secara serentak saat usianya sudah mencukupi yaitu sekitar 5 bulan. Sedangkan kalau di Wamena, proses budidayanya sedikit lebih sederhana. Mereka biasanya tidak menambahkan pupuk pada tanamannya. System budidayanya juga kebanyakan masih menggunakan system ladang berpindah. Sedangkan proses pemanenannya biasanya tidak dilakukan secara serentak melainkan umbi ubi jalar diambil / dipanen sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan makanan sesaat. Yaitu dengan melakukan panen pilih. Umbi yang sudah besar dipanen untuk dimasak (dimakan) hari itu juga sedangkan yang kecil di tutup (ditimbun lagi) dan akan di panen jika sudah besar. Demikian terus menerus sampai akhirnya tanaman ubi jalar tidak produktif lagi. Menurut mereka, proses budidaya ubi jalar semacam ini bisa berlangsung sampai satu tahun.

          Dengan adanya kunjungan dari kawan-kawan petani Wamena tersebut, sedikit banyak telah membuka wawasan bagi kami tentang keanekaragaman yang kita miliki di tanah air tercinta ini. Baik mengenai makanan pokoknya maupun cara budidayanya. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Yang jelas dengan adanya perbedaan tersebut masing-masing diantara kita bisa saling belajar dan saling melengkapi atas kekurangan yang kita miliki.
          Tentunya dalam kesempatan kali ini pula tak lupa kami atas nama seluruh anggota KTM Desa Sajen Kecamatan Pacet mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan petani dari Wamena atas kepercayaan dan kunjungannya kepada kami. Semoga dengan sedikit ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh dari kunjungan / study banding ini bisa membawa manfaat bagi kemajuan dan kesuksesan saudara-saudara kami petani di Wamena.


Selamat Berjuang & Semoga Sukses ….!


Senin, 19 Januari 2009

SUBUR TIDAK BERARTI MAKMUR

Indonesia adalah negara yang subur.
Kata-kata itu dulu sering kali terdengar di telinga kita. Apalagi bagi setiap siswa sekolah dasar yang selalu mendapatkan materi pelajaran yang berhubungan dengan kondisi alam Indonesia. Bagaimana dengan kondisi sekarang ?


Ternyata untuk menjawab pertanyaan itu memerlukan penjelasan yang panjang. Kalau dulu, saat kita duduk di bangku SD, kita selalu mendapatkan gambaran dan penjelasan bahwa dengan kondisi alam Indonesia yang subur seakan menjadi kalimat pembenar untuk menyatakan Indonesia “makmur”. Sehingga seringkali kata subur tersebut tidak berdiri sendiri melainkan menjadi kata “subur makmur”.

Kembali pada pertanyaan di atas, tak bisa kita pungkiri seperti halnya yang pernah dilantunkan oleh Koes Ploes tentang perumpamaan untuk menyatakan kondisi kesuburan alam Indonesia bahwa tongkat, kayu dan batu pun bisa jadi tanaman. Demikianlah kiranya kesuburan tanah air kita ini. Tak ada masalah bagi Indonesia untuk sekedar menjadi produsen/penghasil produk-produk pertanian. Hal ini juga yang sering dirasakan petani kita saat ini. Kalau hanya sekedar tehnik atau budidaya tanaman, mereka tidak pernah mendapatkan permasalahan yang berarti. Disamping kondisi tanahnya yang subur, petani Indonesia telah memiliki sejarah dan pengalaman bertani yang cukup baik. Bahkan kalau memang kita benar-benar mau, kiranya bukan masalah yang sulit untuk mewujudkan swasembada pangan di Indonesia atau bahkan mewujudkan kata-kata “makmur” itu sendiri. Tapi mengapa saat ini negara kita jauh dari kata-kata itu?

Selanjutnya, dalam tulisan ini nanti kita tidak akan membahas tentang swasembada pangan atau tentang kesuburan tanah Indonesia. Namun tulisan ini akan mengajak kita berfikir tentang permasalahan besar yang seringkali dialami oleh petani-petani kita khususnya petani-petani kecil dipedesaan berikut alternatif-alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut seperti halnya yang telah diupayakan oleh teman-teman Petani Muda di Desa Sajen Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto bersama Koperasi Pondok Pesantren Darun Najah.
Seperti kita ketahui bersama bahwa Pacet merupakan salah satu kawasan di Kabupaten Mojokerto yang menjadi sentra produksi Pertanian. Bahkan untuk wilayah Jawa Timur, Pacet juga dikenal sebagai salah satu sentra produksi hortikultura khususnya komoditas bawang merah. Namun keberhasilan budidaya bawang merah ini ternyata tidak banyak diikuti oleh keberhasilan peningkatan pendapatan petani bawang merah. Hal inilah yang seringkali dialami petani di kawasan ini dan mungkin juga di daerah lain. Ternyata pokok permasalahannya bukan pada tehnik budidaya atau proses produksi melainkan lebih pada sektor pasar dan harga atau pasca panen. Bisa kita bayangkan, dengan kondisi tanah dan alam yang sangat mendukung maka petani Pacet sangat tertarik untuk senantiasa membudidayakan bawang merah. Namun masalah akan di saat panen melimpah namun tidak diimbangi dengan harga pasar yang memadai. Maka bisa dipastikan petani akan mengalami kerugian yang cukup besar. Apalagi saat ini biaya produksi sangat membumbung tinggi.

Hal inilah yang kiranya menjadi permasalahan klasik yang selalu terulang dan menghantui sebagian besar petani kita, apalagi petani hartikultura. Seperti kita ketahui karakteristik produk hortikultura, khususnya jenis sayur-sayuran adalah mudah rusak (busuk) sehingga tidak bisa di simpan dalam waktu yang relatif lama. Sehingga pilihan yang diambil petani biasanya adalah langsung menjualnya. Bahkan seringkali langsung dijual di sawah. Kalau harga jualnya bagus, mungkin petani bisa bernafas lega. Tapi kalau harganya anjlok bagaimana? Inilah yang perlu mendapat perhatian kita bersama.

KTM & KOPPONTREN
Memberi Alternatif Solusi Untuk Mengentas Keterpurukan Petani

Mungkin ada beberapa alternatif yang bisa kita ambil untuk mengatasi permasalahan tersebut. Untuk memulainya sebenarnya kita tidak perlu berpikir yang muluk-muluk. Kita hanya perlu memikirkan hal-hal sederhana yang kita sendiri yakin untuk bisa merealisasikan ide-ide kita itu. Yang penting kita benar-benar punya kemauan dan usaha keras untuk mewujudkannya.
Contoh seperti yang ditempuh teman-teman KTM bersama Koppontren Darun Najah. Mereka mulai berfikir tentang pengolahan pasca panen bawang merah. Dasar pemikiran pertama ialah bagaimana bawang merah yang meraka panen ini bisa tahan disimpan dalam kurun waktu yang lebih lama. Sehingga mereka memutuskan untuk menyimpan bawang merah tersebut dalam bentuk bawang goreng. Disamping daya simpannya relatif lebih lama, diharapkan nilai jualnya pun bisa lebih tinggi. Manfaat lainnya adalah kita bisa menyerap tenaga kerja lokal khususnya pemuda-pemuda desa untuk bisa lebih berkarya di sela-sela kesibukannya sebagai petani.
Hal ini menjadi sangat mungkin dan lebih mudah untuk mewujudkannya karena di Desa Sajen Kecamatan Pacet telah berdiri Koperasi milik Pondok Pesantren Darun Najah. Dimana antara KTM dengan Koppontren ini seakan sudah menjadi satu tubuh karena 90 % anggota KTM adalah santri dan juga alumni dari Pondok Pesantren Darun Najah yang otomatis juga sebagai anggota Koperasi Pondok Pesantren tersebut. Bahkan Koordinator CTC-KTM Sajen juga menjabat sebagai Sekretaris di Koppontren Darun Najah.

Ketika produk bawang merah dari petani dikelola oleh Koperasi untuk dijadikan bawang goreng, maka sambil menunggu hasil penjualan (pemasaran) bawang goreng tersebut petani diberi kemudahan untuk mendapatkan bantuan (pinjaman) modal dari Koperasi dalam bentuk saprodi tani (pupuk, bibit dan obat-obatan pertanian). Sehingga petani tidak kebingungan untuk se-segera mungkin menjual bawang merah langsung dari sawah kepada tengkulak seperti yang selama ini sering dilakukan oleh petani.

Namun bukan berarti semua upaya ini lepas dari kendala dan hambatan. Sebagai Kopperasi yang baru mulai merintis usaha Bawang goreng belum genap satu tahun ini, tentunya masih banyak sekali hal-hal yang perlu dibenahi dan dikembangkan. Salah satu diantaranya adalah belum adanya konsumen tetap dengan skala besar yang menampung produk bawang goreng ini. Selama 6 bulan ini masih dalam masa survey pasar dan penjajakan. Disamping mencari kontak-kontak untuk mengembangkan jaringan pasar, selama ini pemasaran masih dilakukan ke konsumen-konsumen lokal diantaranya ke kios-kios, pasar tradisional dan beberapa rumah makan di sekitar Mojokerto. Ke depan kami berharap terbentuk jaringan pemasaran yang kuat dan mendapatkan konsumen yang mampu menampung produk bawang goreng kami dalam skala besar. *Mat.

Rabu, 31 Desember 2008

KTM, selayang pandang

Sing Elek Ojo di Tiru

 Di saat informasi telah menjadi kebutuhan mendasar dari setiap kalangan di dalam masyarakat kita, KTM sebagai salah satu wadah yang diharapkan mampu menampung dan mengembangkan kreatifitas pemuda-pemuda desa Sajen Kecamatan Pacet – Mojokerto, mulai menyambut perkembangan jaman tersebut melalui pengembangan program IT (Information Technology) dengan mengelola sebuah Community Training Center atau yang akrab disebut CTC. Sama halnya dengan beberapa CTC di beberapa kota lain di Indonesia CTC KTM juga bermitra dengan Ornop / LSM (FORMASI Jakarta) dan MICROSOFT.

 Namun yang namanya KTM ya tetap saja KTM. Bagi orang yang baru mengenal pasti akan sangat banyak kesan yang akan didapatkan, baik kesan yang positif dan juga kesan yang negatif. Kesan kumuh, kemproh, kalau ngomong asal nyeplos, kalau bercanda nggak ukuran bahkan lebih sering keterlaluan. Namun di sisi lain biasanya orang yang baru kenal akan merasa cepat akrab dan kerasan ngobrol berlama-lama dengan KTM. Bahkan kalau lama nggak kumpul sama teman-teman KTM bisa kangen lho. Atau biasanya orang bilang anak-anak KTM itu ngangeni (membuat kangen). Semua itu karena semangat keterbukaan, kreatifitas dan keaktifan pemuda-pemudi KTM ini yang menurut beberapa tamu yang datang, karakteristik KTM ini jarang ditemukan di daerah lain. (Ah.. macak ciiihh… udah langka ya… bisa masuk musium tuh.) 
Ketika ada tamu yang datang, apalagi kalau tamunya datang dari kota, maka ungkapan yang biasa terlontar adalah, 
“Anak-anak muda koq masih mau bertani ya..? Apalagi mau mengikrarkan diri dan membentuk sebuah wadah kelompok tani (KTM = Kelompok Tani Muda). Dan anggotanya ternyata tidak hanya pemuda-pemuda saja tapi juga pemudi-pemudi alias cewek-cewek. “ ( Bunga desa gitu lho.. he.. he.. hee... )

Kalau menurut Cak Yazid sang Ketua KTM, kita nggak perlu malu menjadi petani, bahkan sebaliknya kita harus bangga, bangga dan bangga.
“Gawe opo isin ngakoni dadi petani. Wong kenyataan-ne pancen awak dhewe iki tani. Anak turun-ne wong tani. Sakben dino ya nang sawah, ya ngarit, ya macul. Tapi sing penting ya kudu dadi petani sing pinter.Yo iku petani sing gak ketinggalan jaman. Petani sing ngerti pemerintahan, ngerti kemasyarakatan, politik, terus yo kudu ngerti komputer, internet lan teknologi liyane.” 

Menjadi orang pinter tidak harus menjadi sarjana. Sekolah pun bisa di mana saja. Dalam melakukan segala sesuatu harus serius dan sungguh-sungguh. Tapi juga harus santai, enjoy dan dengan senang hati atawa ikhlas gitu lho.. 
Demikian pula dalam mengelola organisasi. Sekretariat KTM yang juga menjadi CTC KTM ini mungkin agak unik dan berbeda dengan yang lain. Meskipun kesan kumuh dan kemproh sangat melekat, namun tempat ini tak pernah sepi di kunjungi orang dan merupakan menjadi tempat yang nyaman bagi anggota KTM untuk ngobrol, beraktifitas dan berkreasi. Di dalam ruang yang kumuh dan kemproh itu menjadi ruang yang sangat terbuka dan sangat familier bagi siapapun. Disamping menjadi ruangan untuk ngobrol masalah pertanian, masalah desa, masalah politik/pemerintahan dan juga sebagai tempat belajar komputer bagi masyarakat, sekretariat KTM juga sangat nyaman untuk hanya sekedar tempat istirahat pelepas lelah setelah seharian bekerja di sawah. 
“Wong pancen-ne panggonanne yo wis ngono iku. Jauh dari sempurna. Tapi sing penting ono manfaate kanggo wong akeh. Keno kanggo rapat, istirahat, tukar informasi, dengar musik, nonton TV, dll. Masyarakat tidak sungkan untuk datang mencari dan atau memberi informasi. Menurut saya ini lebih baik dan mengena untuk masyarakat di desa ini. Dari pada sekretariat atau kantornya para pejabat yang terlalu birokratis, terlalu ribet, membuat orang takut dan berpikir seribu kali untuk masuk,” ungkap Cak Wito Sekretaris KTM.

“Ya.. mudah- mudahan apa yang baik dari kami bisa di tiru dan menjadi motivasi bagi kelompok tani ataupun organisasi lain. Tapi sing elek-elek yo ojo di tiru. Mungkin cocok di sini tapi belum tentu cocok di daerah lain,” tambah Cak Wito mengakhiri komentarnya. Tom.
   

Rabu, 10 Desember 2008

Kunjungan DPR-RI melihat proses pembuatan Kompos di KTM


Pengembangan pertanian ramah lingkungan yang selama ini sedang digeluti oeleh teman-teman petani muda di Desa Sajen Kecamatan Pacet dalam wadah KTM (Kelompok Tani Muda) mendapat perhatian serius dari anggota komisi IV DPR-RI Bapak Mindo Sianipar.

Di samping ramah lingkungan, penerapan pertanian organik juga mampu menekan penggunaan pupuk kimia yang sekarang ini keberadaannya semakin langka di pasaran. Harapan kami ke depan perhatian dewan terhadap permasalahn ini tidak hanya sekedar tebar pesona saat menjelang pelaksanaan pemilu melainkan akan menjadi langkah awal dalam menyusun perencanaan kedepan dalam rangka mewujudkan sistem pertanian yang berkelanjutan di mana petani kita tidak lagi ketergantungan terhadap pupuk maupun pestisida kimia. Di sisi lain tanah semakin subur, tidak tercemar dan menghasilkan produk makanan yang sehat. Mat.  

" Sudahkah makanan kita halal? "

Anak selalu dibidik menjadi pasar potensial bagi produksen, baik itu untuk jenis makanan dan minuman, juga permen, snack,dan sebagainya. Hati – hati dengan makanan minuman yang di kusumsi anak kita.

Jenis makanan seperti premen, jeli snck, cokelat,premen lunak, menjadi favorit bagi sebagaian besar anak- anak kita.sedangkan untuk minuman warna-warni dengan aneka rasa selalu menjadi proiritas yang mereka gemari. Kebanyakan makanan dan minuman tersebut dijajakan secara bebas di toko- toko dan warung-warung.

Sejalan dengan berkembangnya selera, tersebut, paraprodusen pun berlomba menawarkan aneka produk mereka dengan tampilan yang menarik dan warna – warni. Mereka juga menampilkan tokoh kegemaran mereka dalam kemasan dan meberikan iming – iming hadia .berbagai promosi juga di tampilkan di TV dengan gaya yang di sukai.
Premen menjadi salah satu paling di gemari anak kita . rasanya yang manis dan tersedia dalam berbagai pilihan rasa kesukaan anak, tidak jarang membuat anak-anak ketagian apalagi dengan terus berkembangnyan teknologi. Premen dapat di buat dengan berbagai bentuk dan tekstr.
Melihat bagaimana anak begitu menyukai permen amatlah mudah.Cobalah tengok gigi mereka.Hampir tidak ada anak yang giginya masih utuh di usia lima tahun Memang inilah salah efek buruk permen bagi anak . Anak yang belum bisa atau terbiasa gosaok gigi tidak dapat membersihkan sisa- sisa permen terutama permen yang empuk yang menemopel pada gigi. Sisa permen yang manis akan di fermentasi bakteri menghasikan asam . Asam mengikis lapisan email gigi dan menyebabkan keropos atau gigi berlubang 
Dari segi kehalalnya permen lunak cenderung memiliki peluang lebih besar tersusupi komponen tidak halal permen ini tidak hanya terdiri dari gula dan presa seperti pada permen keras tapi juga di tambah bahan pengenyal. Penenyasl yang umum di pakai adalah gum dan gelatin.
Gum terbuat dari getah tumbuhan sehingga aman di tambahkan. Namun, permen lunak akan menjadi bermasalah bila yang di tambahkan adalah gelatin berasal dari binatang apa bahan tersebut ? jika dari binatang sapi, bagaimana cara menyembelihnya?
Perhayian khusus perlu diberikan kepada jeli yang kenyal.bahan yang di gunakan bisa dari tepung konyaku atau gelatin. Tepung konyaku berasal dari sejenis umbi – umbian,serhingga aman dari sisi kehalalan di badingkan dengan yang menggunakan gelatin.bahan yang perlu di cermati dalam jeli adalah perisa, pewarna dan pemanis buatan yang di gunakan. Selain berpeluang tidak halal, penggunaan bahan – bahan sentetis terutama untuk anak – anak dapat menimbulkan dampak gangguan kesehatan di kemudian hari.jangan membeli hanya karena harganya murah atau karena anak suka.pertimbangkan juga efeknya terhadap anak – anak yang kita sayangi.
Snack di sukai anak – anak karena renyah dan gurih.dengan berbagai rasa seperti sapi panggang, ayam,rumput laut,pizza dan sebagainya,makanan ini tidak terpisahkan lagi dari anak-anak.namun hati-hati, jangan membiarkan anak mengkonsumsi makanan jenis ini tanpa membatasinya. Makan anak-anak memang paling rawan.berbagai rasa pada snack di dapatkan dari perisa plus MSG. Perisa daging perlu diwaspadai, karena ada yang diekstrak dari bagian tubuh manusia seperti rambut dan bisa juga berasal dari binatang tertentu yang tidak halal. mas  
Desak Pemkab Kembangkan Pupuk Organik
Kelompok Tani Untuk Menghadapi Kelangkaan Pupuk  


MOJOKERTO – Maraknya kelangkaan pupuk yang belakangan dialami petani terus direaksi banyak pihak. Salah satunya keberadaan kelompok tani di Kabupaten Mojokerto. Mereka mendesak Pemkab Mojokerto segera mengoptimalkan program pengembangan pupuk organik melalui pertanian berkelanjutan (PB). Disamping bisa menghindari ketergantungan petani menggunakan pupuk kimia juga menekan biaya produksi pada masa tanam.
Suwito pengurus Kelompok Tani Muda (KTM) Desa Sajen Kecamatan Pacet mengungkapkan, kelangkaan pupuk yang dialami petani saat ini merupakan bagian dari tanggungjawab Pemkab Mojokerto. Sebab, tidak hanya menciptakan ketergantungan juga berpotensi pendistribusian yang menguntungkan pihak tertentu untuk meraup keuntungan. “ Hal seperti ini semestinya tidak didiamkan pemerintah, bila terus berlanjut maka yang dirugikan adalah petani,” katanya. Seperti yang dialami petani di kecamatan Pacet saat ini. Mereka kesulitan mendapatkan pupuk untuk memenuhi kebutuhan masa tanam pertama. Baik di tingkat kios maupun pengecer. “ Kalau ada itupun harus melalui prosedur yang cukup memberatkan,” jelasnya.
Semisal lebih dulu mengajukan kebutuhan pupuk melalui Rencana Devinif Kebutuhan Kelompok (RDKK) kepada distributor melalui kepala desa (kades) dan Petugas pemantau lapangan di masing-masing kecamatan (PPL). “ jika ada itupun tidak memenuhi kebutuhan,” urainya.
Untuk menghindari ketergantungan dan penyelewengan, Suwito mendesak agar pemkab mengoptimalkan program pertanian berkelanjutan. Diantaranya, rutin mengadakan pelatihan terkait pengembangan pupuk organik di tingkat kelompok tani. Berikut memberikan wawasan dampak penggunaan pupuk kimia yang dapat mengikta unsur hara pada lahan tanam. “ Sehingga tanaman sulit menyerap usur hara,” urainya.
Selain itu Rahmat pengurus KTM lainnya mengatakan, dampak lain jika pemkab tidak mengembangkan program pernian berkelanjutan adalah membiarkan pihak tertentu mengeruk keuntungan dibalik ketergantungan pupuk kimia. Yakn sengaja menjual pupuk di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 60 ribu persak. Karena itu, agar hal itu tidak berkelanjutan dia berharap Pemkab segera memberikan pengetahun bahaya ketergantungan menggunakan pupuk kimia. Terlebih menyampaikan teknis pengembangan teknologi pertanian dalam bentuk teknologi tepat guna.
“ Karena harganya lebih murah dan cukup efesian,” paparnya.
Hal yang sama juga disampaikan Ayuhan Nafie Kelompok Tani Muda desa Kedungsari kecamatan Kemlagi. Penggunaan pupuk urea kimia kata dia memang cukup instan untuk memenuhi kebutuhan tanam. Namun, jika hal itu terus dibiarkan berlarut maka kelangkaan pupuk selamanya tidak bisa teratasi. “ Sebab masalah pupuk kimia ini bukan persoalan barang, melainkan ketergantungan,” ujarnya. Salah satu cara yang mampu menghindari ketergantungan adalah dengan membudidayakan pembuatan berikut manfaat pupuk organik. Baik kepada petani sendiri maupun PPL di tingkat kecamatan. “ Bila pemkab tetap menggunakan yang lain yang ada justru menghamburkan anggaran saja,” cetusnya.
Sementara itu kordinator Forum Komunikasi dan Informasi Petani (FKIP) Mojokerto, Sukirno, mengatakan turun tangan pemkab dalam pengembangan pertanian berkelanjutan dirasa cukup penting. Disamping bisa menghidari kelangkaan juga dianggap mampu merubah paradigma penggunaan pupuk kimia oleh petani.
“Apalagi saat ini petani masih belum sadar tentang dampak penggunaan pupuk kimia yang berlebihan,” katanya. Dengan demikian dia mengimbau agar pemkab tidak sekedar tebar pesona dalam menangani keluhan para petani. Semisal turun tangan ketika terjadi pupuk langka. Melaikan menaruh komitmen dalam bidang pertanian. “ Paling tidak petani bisa merubah pola pikir soal penggunaan pupuk kimia,” imbuh Sukir. (ris)