“Tak ada nasi, ubi pun jadi”

Namun perlu kita ingat, bahwa program semacam ini ternyata tidak berlaku secara umum untuk seluruh wilayah Indonesia. Salah satu contohnya adalah di daerah Papua. Beberapa masyarakat di daerah Papua tidak menjadikan beras sebagai komoditas bahan pangan utama. Sebut saja masyarakat di Kabupaten Wamena. Sebagian besar masyarakat Wamena menjadikan umbi-umbian (khususnya ubi jalar) sebagai bahan makanan pokoknya. Namun karena minimnya akses informasi yang mereka terima khususnya masyarakat-masyarakat adat yang tinggal di pedalaman, sehingga proses pengolahan ubi menjadi bahan pangan dilakukan dengan sangat sederhana. Menurut informasi yang kami terima, mereka mengolah ubi hanya cukup dengan direbus atau dibakar dalam prosesi bakar batu . Yaitu sebuah prosesi adat yang sudah berlangsung sejak jaman nenek moyang mereka dahulu dan tetap lestari sampai sekarang.
Kunjungan (Study Banding)
Kawan-Kawan Petani WAMENA Ke KTM

Dengan segala kesederhanaan dan minimnya akses informasi yang mereka terima ternyata tidak menyurutkan semangat para petani Wamena untuk terus menuntut ilmu dan mengembangkan teknologi pertanian yang mereka miliki. Bahkan dengan segala keterbatasan tersebut malah membuat mereka lebih bersemangat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman walaupun harus menempuh perjalanan jauh sampai ke Pulau Jawa. Hal inilah yang kemarin diwujudkan oleh kawan kawan petani Wamena dengan melakukan study banding ke Kelompok Tani Muda Desa Sajen Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto –Jatim.
Beberapa petani dari Wamena bersama lembaga pendampingnya, pada tanggal 21 Januari 2009 kemarin telah hadir di sekretariat KTM untuk melakukan sharing pengalaman tentang proses budidaya ubi jalar yang dilanjutkan dengan kunjungan ke lahan untuk melihat dan belajar secara langsung proses budidaya ubi jalar di wilayah Pacet. Selama ini di kawasan Pacet - Kabupaten Mojokerto, ubi jalar memang masih menjadi komoditas andalan. Di samping kondisi tanahnya yang memang cocok untuk tanaman tersebut, cara budidaya ubi jalar juga tergolong tidak terlalu rumit dibanding dengan cara budidaya tanaman yang lainnya apalagi hortikultura. Biaya yang dikeluarkan juga tidak begitu banyak. Sehingga petani Pacet lebih memilih untuk bertanam ubi jalar disamping komoditas utama yang lain yaitu jenis sayur-sayuran.
.png)

Tentunya dalam kesempatan kali ini pula tak lupa kami atas nama seluruh anggota KTM Desa Sajen Kecamatan Pacet mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan petani dari Wamena atas kepercayaan dan kunjungannya kepada kami. Semoga dengan sedikit ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh dari kunjungan / study banding ini bisa membawa manfaat bagi kemajuan dan kesuksesan saudara-saudara kami petani di Wamena.






“Wong pancen-ne panggonanne yo wis ngono iku. Jauh dari sempurna. Tapi sing penting ono manfaate kanggo wong akeh. Keno kanggo rapat, istirahat, tukar informasi, dengar musik, nonton TV, dll. Masyarakat tidak sungkan untuk datang mencari dan atau memberi informasi. Menurut saya ini lebih baik dan mengena untuk masyarakat di desa ini. Dari pada sekretariat atau kantornya para pejabat yang terlalu birokratis, terlalu ribet, membuat orang takut dan berpikir seribu kali untuk masuk,” ungkap Cak Wito Sekretaris KTM.
